Minggu, 30 Juni 2013

ALASAN IDEOLOGIS PENGHARAMAN RIBA



ALASAN IDEOLOGIS TENTANG PENGHARAMAN RIBA
Dalam perkembangan ekonomi yang semakin pesat dan persaingan global yang semakin kompetitif dewasa ini membuat para pelaku ekonomi atau masyarakat  kurang begitu memberi perhatian yang  besar terhadap syariah terutama tentang riba.
Namun sebenarnya tidak ada alasan bagi siapapun mereka untuk tidak memperhatikan masalah riba ini, karena pada dasarnya semua manusia yang beragama, semua agama telah mengatur pelarangan riba.
Bagi umat muslim sendiri telah jelas disebutkan dibeberapa ayat dalam alquran tentang riba dan bahayanya bagi yang melakukan praktik riba, hal tersebutlah yang menjadilan alasan-alasan ideologis tentang pengharaman riba.
Diantara ayat-ayat alquran yang menjadi dasar hukum tantang pengharaman riba antara lain adalah
Pertama, QS Ar-Rum ayat 39 “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kau berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.
Dalam ayat ini tidak secara tegas Allah SWT mengharamkan riba, hanya sebatas perbandingan antara riba dan zakat, yang mana riba hanya bersifat kamuflase sedangkan zakat bersifat hakiki.
Kedua, QS An-Nisa 160-161 “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”.
Ayat ini menggambarkan kebiasaan orang-orang Yahudi yang senang memakan riba dan kebiasaan memakan harta dengan cara yang bathil. Padahal Allah telah mengharamkan yang demikian itu bagi mereka.
Ketiga, QS Ali Imran : 130. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.
Dalam ayat ini Allah melarang umat Islam memakan riba secara berlipat ganda. Ayat ini lebih pada penekanan dan bersifat sistematis dibandingkan ayat yang sebelumnya, yakni “memakan riba secara berlipat ganda”. Maka muncullah pertanyaan, “bagaimana jika sedikit?”
Keempat, QS Al Baqarah : 275 – 276 kemudian 278 – 280. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.(175-176).
ayat  ini menegaskan lebih tegas lagi tentang pengharaman riba dan ancaman Allah bagi mereka yang memakan riba dan solusi yang baik bagi mereka.
Beberapa kandungan pokok dalam ayat di atas adalah :
1)     Orang yang memakan riba sama seperi orang yang kesetanan sehingga tidak dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Karena mereka telah menyamakan jual beli dan riba, padahal Allah menegaskan bahwa riba itu Haram. Sedangkan jual beli itu halal. (ayat 275)
2)    Allah berkehendak memusnahkan riba karena berbagai dampak buruk yang ditimbulkannya, kemudian diganti dengan sodakoh yang bermanfaat dan memberdayakan umat. (ayat 276)
3)    Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan meninggalkan sisa riba yang belum dipungut. Dalam hal ini, orang yang pernah meminjamkan uang kepada orang lain, hanya berhak mengambil pokok bagian hartanya (yang dipinjamkannya). Apabila melaksanakannya, maka tidak akan ada yang dianiaya maupun menganiaya. Apabila perintah itu tidak dilaksanakan, maka Allah akan memeranginya. (ayat 278-279)
4)    Al-Qur’an mengajarkan agar orang yang meminjamkan uangnya kepada orang lain mau memberikan tenggang waktu pelunasan ketika si peminjam mengalami kesulitan mengembalikan pinjaman pada waktu yang dijanjikan. Apabila peminjam benar-benar tidak mau mengembalikan maka menyedekahkan sebagian atau seluruh pinjaman merupakan sebuah kebaikan disisi Allah. Pengembalian pinjaman hanya sebesar pokok pinjaman yang diberikan sehingga terhindar dari tindakan menganiaya maupun dianiaya. (ayat 280)

Dari beberapa uraian ayat-ayat Alquran diatas kiranya sudah cukup jelas kenapa riba dilarang oleh Islam bahkan dilarang oleh semua agama, Aristotelespun melarang riba.
Salam, semoga bermanfaat....

SUNARNO
12520048                                       
STIE SWADAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar