Minggu, 23 Juni 2013

PENGERTIAN, DASAR HUKUM DAN LANDASAN FILOSOPI EKONOMI SYARIAH

Nama     : Utep Kartiwa
Nim        : 11520084
No Urut  : 41
Kelas      : Ektensi Sore (STIE SWADAYA CIKARANG) 
Jurusan  : Manajemen


PENGERTIAN, DASAR HUKUM DAN LANDASAN FILOSOPI EKONOMI SYARIAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam sebagai agama wahyu merupakan sumber pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, seluruh aktivitas yang dilakukan dalam bidang ekonomi Islam mengutamakan metode pendekatan sistem nilai sebagaimana yang tercantum dalam sumber-sumber hukum Islam yang berupa Al Quran, Sunnah, Ijma dan Ijtihad.
Sistem nilai tersebut diharapkan dapat membentuk suatu sistem ekonomi Islam yang mampu mengentaskan kehidupan manusia dari ancaman pertarungan serta timbulnya perpecahan akibat adanya persaingan dan kegelisahan yang menyebabkan keserakahan sebagai bentuk krisis dari sistem ekonomi kapitalis dan sosialistik (Muhamad, 2000 : 14-16). Islam menginginkan suatu ekonomi pasar yang dilandaskan pada nilai-nilai moral. Segala kegiatan ekonomi harus berdasarkan pada prinsip kerjasama dan prinsip tanggung jawab.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian  Ekonomi Islam?
2.      Apa saja prinsip-prinsip dalam Ekonomi Islam?
3.      Apa saja ciri-ciri Ekonomi Islam ?
4.      Apa sumber hukum dalam Ekonomi Islam?
5.      Apa saja rancang bangun dalam Ekonomi Islam?

C.    Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Ekonomi Islam
2.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam Ekonomi Islam
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri Ekonomi Islam
4.      Untuk mengetahui sumber hukum dalam Ekonomi Islam
5.   Untuk mengetahui filosopi Ekonomi Syariah
6.      Untuk mengetahui rancang bangun dalam Ekonomi Islam





BAB II

PEMBAHASAN

A.       Pengertian Ekonomi Islam
Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ilmu pengetahuan yang menyoroti masalah perekonomian, sama seperti konsep ekonomi konvensional lainnya. Hanya, dalam sistem ekonomi ini, nilai-nilai Islam menjadi landasan dan dasar dalam setiap aktivitasnya.
Dari pemahaman ekonomi Islam ini, menunjukkan bahwa sistem ekonomi ini bukan hanya ditujukan bagi umat Islam saja. Sebab, semua umat manusia bisa dan berhak untuk menggunakan konsep yang ada dalam sistem ekonomi berbasis ajaran Islam tersebut.
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam. Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 105:
“ Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu”. Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw:
“Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan.”(HR.Thabrani dan Baihaqi).
Pembahasan tentang tujuan-tujuan sistem ekonomi Islam di atas menunjukkan bahwa kesejahteraan material yang berdasarkan nilai-nilai spiritual yang kokoh merupakan dasar yang sangat perlu dari filsafat ekonomi Islam.Karena dasar sistem Islam sendiri berbeda dari sosialisme dan kapitalisme, yang keduanya terikat pada keduniaan dan tak berorientasi pada nilai-nilai spiritual, maka suprastrukturnya juga mesti berbeda. Usaha apapun untuk memperlihatkan persamaan Islam dengan kapitalisme atau sosialisme hanyalah akan memperlihatkan kekurang-pengertian tentang ciri-ciri dasar dari ketiga sistem tersebut.
Disamping itu, sistem Islam betul-betul diabdikan kepada persaudaraan umat manusia yang disertai keadilan ekonomi dan sosial serta distribusi pendapatan yang adil, dan kepada kemerdekaan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.Dan perlu dinyatakan disini, bahwa pengabdian ini berorientasi spiritual dan terjalin erat dengan keseluruhan jalinan nilai-nilai ekonomi dan sosialnya. Berlawanan dengan ini, orientasi kapitalisme modern pada keadilan ekonomi dan sosial dan distribusi pendapatan yang adil hanyalah bersifat parsial saja, dan merupakan akibat desakan-desakan kelompok masyarakat, bukannya merupakan dorongan dari tujuan spiritual untuk menciptakan persaudaraan umat manusia, dan tidak merupakan bagian integral dari keseluruhan filsafatnya.



Sedang orientasi sosialisme, walaupun dinyatakan sebagai hasil dari filsafat dasarnya, tidaklah benar-benar berarti, karena tiadanya pengabdian kepada cita persaudaraan umat manusia dan kriteria keadilan dan persamaan yang adil berdasarkan spiritual di satu pihak, dan di pihak lain karena hilangnya kehormatan dan identitas individu yang disebabkan karena tidak diakuinya kemerdekaan individu, yang merupakan kebutuhan dasar manusia.
Komitmen Islam terhadap kemerdekaan individu dengan jelas membedakannya dari sosialisme atau sistem apapun yang menghapuskan kebebasan individu. Saling rela tak terpaksa antara penjual dan pembeli, menurut semua ahli hukum Islam, adalah merupakan syarat sahnya transaksi dagang. Persaratan ini bersumber dari ayat Al-Qur’an: “Wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu memakan harta salah seorang diantaramu dengan jalan yang tidak benar; dapatkanlah harta dengan melalui jual beli dan saling merelakan” (QS. 4:29).
Satu-satunya sistem yang sesuai dengan semangat kebebasan dalam way of life Islam ini adalah sistem dimana pelaksanaan sebagian besar proses produksi dan distribusi barang-barang serta jasa diserahkan kepada individu-individu atau kelompok-kelompok yang dibentuk dengan sukarela, dan dimana setiap orang diijinkan untuk menjual kepada, dan membeli dari siapapun yang dikehendakinya dengan harga yang disetujui oleh kedua belah pihak.
Kebebasan berusaha, berlawanan dengan sosialisme, memberikan kemungkinan untuk hal itu dan diakui oleh Islam bersama-sama dengan unsur-unsur yang mendampinginya, yaitu pelembagaan hak milik pribadi.
Al-Qur’an, As-Sunnah, dan literatur fiqh penuh dengan pembahasan yang terperinci tentang norma-norma yang menyangkut pencarian dan pembelanjaan harta benda pribadi dan perdagangan, dan jual beli barang-barang dagangan, disamping pelembagaan zakat dan warisan.Yang pasti tidak akan dibahas dengan demikian terperinci seandainya pelembagaan hak milik pribadi atas sebagian besar sumber-sumber daya yang produktif tidak diakui oleh Islam. Karena itu, peniadaan hak milik pribadi ini tidak dapat dipandang sesuai dengan ajaran Islam.
Mekanisme pasar juga dapat dipandang sebagai bagian integral dari sistem ekonomi Islam, karena di satu pihak pelembagaan hak milik pribadi tidak akan dapat berfungsi tanpa pasar. Dan dilain pihak, pasar memberikan kesempatan kepada para konsumen untuk mengungkapkan keinginannya terhadap produk barang atau jasa yang mereka senangi diiringi kesediaan mereka untuk membayar harganya, dan juga memberikan kepada para pemilik sumber daya (produsen) kesempatan untuk menjual produk barang atau jasanya sesuai dengan keinginan bebas mereka.
Motif mencari keuntungan, yang mendasari keberhasilan pelaksanaan sistem yang dijiwai kebebasan berusaha, juga diakui oleh Islam. Hal ini dikarenakan keuntungan memberikan insentif yang perlu bagi efisiensi pemakaian sumberdaya yang telah dianugerahkan Allah kepada umat manusia. Efisiensi dalam alokasi sumber daya ini merupakan unsur yang perlu dalam kehidupan masyarakat yang sehat dan dinamis.





Tetapi karena adalah mungkin untuk menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama, dan dengan demikian membawa kepada berbagai penyakit ekonomi dan sosial, maka Islam menempatkan pembatasan-pembatasan moral tertentu atas motif mencari keuntungan, sehingga motif tersebut menunjang kepentingan individu dalam konteks sosial dan tidak melanggar tujuan-tujuan Islam dalam keadilan ekonomi dan sosial serta distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil.
Pengakuan Islam atas kebebasan berusaha bersama dengan pelembagaan hak milik pribadi dan motif mencari keuntungan, tidaklah menjadikan sistem Islam mirip dengan kapitalisme yang berdasarkan kebebasan berusaha. Perbedaan antara kedua hal itu perlu difahami dikarenakan oleh dua alasan penting: Pertama, dalam sistem Islam, walaupun pemilikan harta benda secara pribadi diizinkan, namun ia harus dipandang sebagai amanat dari Allah, karena segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi sebenarnya adalah milik Allah, dan manusia sebagai wakil (khalifah) Allah hanya mempunyai hak untuk memilikinya dengan status amanat. Qur’an berkata: “Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan dibumi” (QS. 2:84). “Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi dan apa yang ada di dalamnya, kalau kamu semua tahu? Pasti mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Kalau demikian, maukah kamu semua berfikir?” (QS. 23:84-85).
“Dan berilah (bantulah) mereka dari kekayaan Allah yang telah diberikan Allah kepadamu” (QS. 24:33).
Kedua, karena manusia adalah wakil Allah di bumi, dan harta benda yang dimilikinya adalah amanat dari-Nya, maka manusia terikat oleh syarat-syarat amanat, atau lebih khusus lagi, oleh nilai-nilai moral Islam, terutama nilai-nilai halal dan haram, persaudaraan, keadilan sosial dan ekonomi, distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, dan menunjang kesejahteraan masyarakat umum.
Harta benda haruslah dicari dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, dan harus dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang menjadi tujuan penciptaannya. Rasulullah saw bersabda:
“Harta benda memang hijau dan manis (mempesona); barangsiapa yang mencarinya dengan cara yang halal, maka harta itu akan menjadi pembantunya yang sangat baik, sedangkan barangsiapa yang mencarinya dengan cara yang tidak benar, maka ia akan seperti seseorang yang makan tapi tak pernah kenyang” (HR. Muslim, dalam Shahih-nya, 2:728).
Tujuan Ekonomi Islam segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat. Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran hukum islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, yaitu:



1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya.
2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah.
3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar:
·keselamatan keyakinan agama (al din)
·kesalamatan jiwa (al nafs)
·keselamatan akal (al aql)
·keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)
·keselamatan harta benda (al mal).

B.       Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:
·         Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari    Allah   swt kepada manusia.
·          Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
·          Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
·          Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
·          Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
·          Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.
·          Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
·         Islam melarang riba dalam segala bentuk.
C.       Ciri-ciri Ekonomi Islam
Ø   Ciri Umum Ekonomi Islam
      Memelihara fitrah manusia .·
      Memelihara norma-norma· akhlak .
      Memenuhi keperluan-keperluan· masyarakat  .
      Kegiatan-kegiatan ekonomi· adalah sebahagian daripada ajaran agama Islam.
      Kegiatan ekonomi Islam· mempunyai cita-cita luhur, iaitu bertujuan berusaha untuk mencari keuntungan individu, di samping melahirkan kebahagiaan bersama bagi masyarakat.
      Aktiviti-aktiviti ekonomi islam· sentiasa diawasi oleh hukum-hukum islam dan perlaksanaannya dikawal pula oleh pihak pemerintah Ekonomi islam menseimbangkan· antara kepentingan individu dan masyarakat


Ø  Ciri Khusus Ekonomi Islam

1.             Ekonomi Islam pengaturannya bersifat ketuhanan/ilahiah (nizhamun rabbaniyyun), mengingat dasar-dasar pengaturannya yang tidak diletakkan oleh manusia, akan tetapi didasarkan pada aturan-aturan yang ditetapkan Allah s.w.t. sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Jadi, berbeda dengan hukum ekonomi lainnya yakni kapitalis (ra’simaliyah; capitalistic) dan sosialis (syuyu`iyah; socialistic) yang tata aturannya semata-mata didasarkan atas konsep-konsep/teori-teori yang dihadirkan oleh manusia (para ekonom).
2.              Dalam Islam, ekonomi hanya merupakan satu titik bahagian dari al-Islam secara keseluruhan (juz’un min al-Islam as-syamil). Oleh karena ekonomi itu hanya merupakan salah satu bagian atau tepatnya sub sistem dari al-Islam yang bersifat komprehensip (al-Islam as-syamil), maka ini artinya tidaklah mungkin memisahkan persoalan ekonomi dari rangkaian ajaran Islam secara keseluruhan yang bersifat utuh dan menyeluruh (holistik). Misalnya saja, karena Islam itu agama akidah dan agama akhlak di samping agama syariah (muamalah), maka ekonomi Islam tidak boleh terlepas apalagi dilepaskan dari ikatannya dengan sistem akidah dan sistem akhlaq (etika) di samping hukum. Itulah sebabnya seperti akan dibahas pada waktunya nanti, mengapa ekonomi Islam tetap dibangun di atas asas-asas akadiah (al-asas al-`aqa’idiyyah) dan asas-asas etika-moral (al-asas akhlaqiyyah) yang lainnya.
3.              Ekonomi berdimensi akidah atau keakidahan (iqtishadun `aqdiyyun), mengingat ekonomi Islam itu pada dasarnya terbit atau lahir (sebagai ekspresi) dari akidah Islamiah (al-`aqidah sl-Islamiyyah) yang di dalamnya akan dimintakan pertanggung-jawaban terhadap akidah yang diyakininya. Atas dasar ini maka seorang Muslim (menjadi) terikat dengan sebagian kewajibannya semisal zakat, sedekah dan lain-lain walaupun dia sendiri harus kehilangan sebagian kepentingan dunianya karena lebih cenderung untuk mendapatkan pahala dari Allah s.w.t. di hari kiamat kelak.
4.              Berkarakter ta`abbudi (thabi`un ta`abbudiyun). Mengingat ekonomi Islam itu merupakan tata aturan yang berdimensikan ketuhanan (nizham rabbani), dan setiap ketaatan kepada salah satu dari sekian banyak aturan-aturan Nya adalah berarti ketaatan kepada Allah s.w.t., dan setiap ketaatan kepada Allah itu adalah ibadah. Dengan demikian maka penerapan aturan-aturan ekonomi Islam (al-iqtishad al-Islami) adalah juga mengandung nilai-nilai ibadah dalam konteksnya yang sangat luas dan umum.
5.              Terkait erat dengan akhlak (murtabithun bil-akhlaq), Islam tidak pernah memprediksi kemungkinan ada pemisahan antara akhlak dan ekonomi, juga tidak pernah memetakan pembangunan ekonomi dalam lindungan Islam yang tanpa akhlak. Itulah sebabnya mengapa dalam Islam kita tidak akan pernah menemukan aktivitas ekonomi seperti perdagangan, perkreditan dan lain-lain yang semata-mata murni kegiatan ekonomi sebagaimana terdapat di dalam ekonomi non Islam. Dalam Islam, kegiatan ekonomi sama sekali tidak boleh lepas dari kendali akhlaq (etika-moral) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran Islam secara keseluruhan.


6.             Elastis (al-murunah), dalam pengertian mampu berkembang secara perlahan-lahan atau evolusi. Kekhususan al-murunah ini didasarkan pada kenyataan bahwa baik al-Qur’an maupun al-Hadits, yang keduanya dijadikan sebagai sumber asasi ekonomi, tidak memberikan doktrin ekonomi secara tekstual akan tetapi hanya memberikan garis-garis besar yang bersifat instruktif guna mengarahkan perekonomian Islam secara global. Sedangkan implementasinya secara riil di lapangan diserahkan kepada kesepakatan sosial (masyarakat ekonomi) sepanjang tidak menyalahi cita-cita syari`at (maqashid as-syari`ah).
7.             Objektif (al-maudhu`iyyah), dalam pengertian, Islam mengajarkan umatnya supaya berlaku dan bertindak obyekektif dalam melakukan aktifitas ekonomi. Aktivitas ekonomi pada hakekatnya adalah merupakan pelaksanaan amanat yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku ekonomi tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, warna kulit, etnik, agama/kepercayaan dan lain-lain. Bahkan terhadap musuh sekalipun di samping terhadap kawan dekat. Itulah sebabnya mengapa monopoli misalnya dilarang dalam Islam. Termasuk ke dalam hal yang dilarang ialah perlakuan dumping dalam berdagang/berbisnis.
Memiliki target sasaran/tujuan yang lebih tinggi (al-hadaf as-sami). Berlainan dengan sistem ekonomi non Islam yang semata-mata hanya untuk mengejar kepuasan materi (ar-rafahiyah al-maddiyah), ekonomi Islam memiliki sasaran yang lebih jauh yakni merealisasikan kehidupan kerohanian yang lebih tinggi (berkualitas) dan pendidikan kejiwaan.
8.             Perekonomian yang stabil/kokoh (iqtishadun bina’un). Kekhususan ini antara lain dapat dilihat dari kenyataan bahwa Islam mengharamkan praktek bisnis yang membahayakan umat insani apakah itu bersifat perorangan maupun kemasyarakatan seperti pengharaman riba, penipuan, perdagangan khamr dan lain-lain.
9.             Perekonomian yang berimbang (iqtishad mutawazin), maksudnya ialah bahwa perekonomian yang hendak diwujudkan oleh Islam adalah ekonomi yang berkeseimbangan (berimabng) antara kepentingan individu dan sosial, antara tuntutan kebutuhan duniawi dan pahala akhirat, serta keseimbangan antara fisik dan psikis, keseimbangan antara sikap boros dan hemat (israf dan taqtir).
10.         Realistis (al-waqi`iyyah). Prakiraan (forcasting) ekonomi khususnya prakiraan bisnis tidak selamanya sesuai antara teori di satu sisi dengan praktek pada sisi yang lain. Dalam hal-hal tertentu, sangat dimungkinkan terjadi pengecualian atau bahkan penyimpangan dari hal-hal yang semestinya. Misalnya, dalam keadaan normal, Islam mengharamkan praktek jual-beli barang-barang yang diharamkan untuk mengonsumsinya, tetapi dalam keadaan darurat (ada kebutuhan sangat mendesak) pelarangan itu bisa jadi diturunkan statusnya menjadi boleh atau sekurang-kurangnya tidak berdosa.






11.         Harta kekayaan itu pada hakekatnya adalah milik Alah s.w.t. Dalam prinsip ini terkandung maksud bahwa kepemilikan seseorang terhadap harta kekayaan (al-amwal) tidaklah bersifat mutlak. Itulah sebabnya mengapa dalam Islam pendayagunaan harta kekayaan itu tetap harus diklola dan dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan Sang Maha Pemilik yaitu Allah s.w.t. Atas dalih apapun, seseorang tidak bolehbertindak sewenag-wenang dalam mentasarrufkan (membelanjakan) harta kekayaannya, termasuk dengan dalih bahwa harta kekayaan itu milik pribadinya.
12.         Memiliki kecakapan dalam mengelola harta kekayaan (tarsyid istikhdam al-mal). Para pemilik harta perlu memiliki kecerdasan/kepiawaian dalam mengelola atau mengatur harta kekayaannya semisal berlaku hemat dalam berbelanja, tidak menyerahkan harta kepada orang yang belum/tidak mengerti tentang pendayagunaannya, dan tidak membelanjakan hartanya ke dalam hal-hal yang diharamkan agama, serta tidak menggunakannya pada hal
hal yang akan merugikan orang lain

D.       Sumber Hukum Ekonomi Islam
Sebuah ilmu tentu memiliki landasan hukum agar bisa dinyatakan sebagai sebuah bagian dari konsep pengetahuan, demikian pula dengan ekonomi Islam. Ada beberapa dasar hukum yang menjadi landasan pemikiran dan penentuan konsep ekonomi Islam.
Beberapa dasar hukum Islam tersebut di antaranya adalah :
1.        Al Qur’an. Ini merupakan dasar hukum utama konsep ekonomi Islam, karena Al Qur’an merupakan ilmu pengetahuan yang berasal langsung dari Allah. Beberapa ayat dalam Al Qur’an merujuk pada perintah manusia untuk mengembangkan sistem ekonomi yang bersumber pada hukum Islam. Di antaranya terdapat pada QS. Fuskilat: 42, QS. Az Zumar: 27 dan QS. Al Hasy:22.
2.        Hadist dan Sunnah. Pengertian hadist dan sunnah adalah sebuah perilaku Nabi yang tidak diwajibkan dilakukan manusia, namun apabila mengerjakan apa yang dilakukan Nabi Muhammad, maka manusia akan mendapatkan pahala. Keduanya dijadikan dasar hukum ekonomi Islam mengingat Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang yang sangat layak untuk dijadikan panutan pelaku ekonomi modern.
3.        Ijma’, yaitu sebuah prinsip hukum baru yang timbul sebagai akibat adanya perkembangan jaman. Ijma’ adalah konsensus baik dari masyarakat maupun cendekiawan agama, dengan berdasar pada Al Qur’an sebagai sumber hukum utama.
4.        Ijtihad atau Qiyas. Merupakan sebuah aktivitas dari para ahli agama untuk memecahkan masalah yang muncul di masyarakat, di mana masalah tersebut tidak tersebut secara rinci dalam hukum Islam. Dengan merujuk beberapa ketentuan yang ada, maka Ijtihad berperan untuk membuat sebuah hukum yang bersifat aplikatif, dengan dasar Al Qur’an dan Hadist sebagai sumber hukum yang bersifat normatif.


E.     Rancang Bangun Ekonomi Islam
Ekonomi Islam dapat di ibaratkan satu bangunan yang terdiri dari landasan, tiang, dan atap. Landasannya terdiri atas lima komponen, yaitu tauhid, adil, nubuwwadan ma’ad (return).
Tauhid bermakna ke-Maha Esa-an Allah sebagai pencipta langit dan bumi, pemilik semua yang ada di alam semesta, dan pemberi rizki, serta penguasa atas segalanya. Pengingkaran terhadap ketauhidan Allah akan membuat manusia merasa dirinya hebat, semuanya bisa diatur dengan harta mereka.
Implikasi logis dari menyadari keterbatasan manusia, yang kaya bisa menjadi miskin, dan sebaliknya, serta yang lemah bisa berkuasa ataupun sebaliknya, itu semua adalah sikap adil. Adil bukanlah sama rata atau sama rasa, melainkan tidak berbuat dholim. Kadangkala sulit untuk mencari terjemahan oprasional dari nilai tauhid dan adil ini, apalagi dalam praktek ekonomi yang terus berkembang dengan dinamis. Mungkin ini pula sebabnya beberapa kalangan menilai ekonomi islam merupakan sesuatu yang hanya dapat berjalan bila kita semua telah menjadi malaikat. Oleh karena itu kita butuh contoh yang membuktikan bahwa konsep ekonomi islam adalah konsep untuk manusia, bukan untuk malaikat, serta mampu di jalankan oleh manusia. Nubuwwa adalah jawaban akan kebutuhan ini. Rosulullah memberi contoh bagaimana melakukan kegiatan ekonomi yang membawa kesuksesan di dunia dan akhirat.
Argument penolakan berikutnya adalah ‘kita kan bukan nabi’. Jadi, konsep ekonomi islam tidak relevan untuk kita. Ini pun keliru karena ternyata konsep ini sukses dijalankan oleh mereka yang bukan nabi. Meskipun konsep ini dapat dijalankan oleh individu tetapi akan benar-benar menjadi kuat jika dijalankan secara berjama’ah, atau dalam istilah ekonominya, kekuatan: ekonomi makro yang kuat akan menjadi dasar ekonomi makro yang kuat. Disini perlunya pemimpin untuk menciptakan kondisi makro ekonomi yang kondusif bagi berkembangnya mikro ekonomi.
Untuk menciptakan ekonomi yang kuat tentu harus ada motivasi yang kuat pula bagi para pelakunya. Itu sebabnya, ekonomi islam adalah ekonomi yang mencari laba. Imam Ghazali, misalnya, secara eksplisit mengatakan bahwa motivasi para pedagang bukan hanya semata-mata mencari keuntungan di dunia, melainkan dalam ekonomi islam lebih penting kepada keuntungan di akhirat.salah satu implikasinya adalah sedekah yang tidak akan membuat rugi bahkan akan mendapatkan kebaikan yang nyata di dunai dan di akhirat.
Jika kita sudah membicarakan soal landasan, kini masalah tiangnya. Tiang-tiang perekonomian islam ada tiga. Pertama, pengakuan akanmultiownership. Islam mengakui adanya kepemilikan pribadi, kepemilikan bersama (syirkah), dan kepemilikan Negara. Hal ini sangat berbeda dengan konsep kapitalis klasik yang hanya mengakui kepemilikan pribadi saja.




Kedua adalah seperti dalam kaidah ushul fiqih, yaitu al ashlu fil muamalah al-ibahah, yang berarti kebebasan berekonomi selama tidak melanggar rambu-rambu syari’ah. Ekonomi adalah persoalan yang selalu berkembang dengan dinamika. Oleh karena itu, selalu diperlukan pemikiran baru untuk memecahkan masalah ekonomi. Merujuk pada zaman Rosulullah dan para shahabatnya tentu sangat bermanfaat, namun ijtihad di bidang ekonomi diperlukan.seperti sabda Rosulullah,”kamu lebih tahu urusan duniamu”. Artinya untuk urusan dunia kita bisa berijtihad selama itu tidak keluar dari ajaran al_Qur’an dan al-Hadits.
Ketiga, social justice. Dalam konsep ekonomi islam, bahkan rezeki halal yang kita dapat dengan jerih payah itu diyakini ada hak orang lain. Jadi, bukan karena berbaik hati memberikan donasi, namun ia bukan hak kita, ia hak orang lain.
Karakteristik utama dari sistem ekonomi Islam adalah digunakannya konsep segitiga (triangle concept) yang memiliki tiga elemen dasar. Adapun ketiga elemen dasar tersebut adalah Allah SWT, manusia dan alam. Dalam melaksanakan segala aktivitas ekonomi, maka manusia akan selalu berhubungan dengan manusia lainnya (hablum minannaas). Sedangkan elemen alam pada konsep segitiga dimaksudkan sebagai wahana atau tempat yang mampu memberikan dan mencukupi kebutuhan seluruh mahluk hidup, khususnya umat manusia. Namun demikian, manusia yang telah ditakdirkan sebagai mahluk hidup yang diberikan akal memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup dari alam tersebut. Pada akhirnya, keseluruhan hubungan horisontal antara kedua elemen tersebut harus mengacu pada sebuah garis lurus vertikal, yaitu Allah SWT (hablum minnallah). Hal tersebut merupakan salah satu bentuk filsafat ekonomi Islam (Muhamad, 2000 : 17).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam filsafat ekonomi Islam terdapat tiga asas pokok yaitu sebagai berikut : (Muhamad, 2000 : 19)
1.         Asas yang menjelaskan bahwa dunia dan seluruh isinya, termasuk alam semesta, adalah milik Allah SWT dan berjalan menurut kehendak-Nya.
2.         Asas yang menjelaskan bahwa Allah SWT merupakan pencipta semua mahluk hidup yang ada di alam semesta ini. Konsekuensi yang timbul dari hal tersebut adalah bahwa seluruh mahluk hidup tersebut harus tunduk kepada-Nya.
3.         Asas yang menjelaskan bahwa iman kepada hari kiamat akan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku ekonomi manusia menurut horison waktu.






Kekuasaan Allah SWT terhadap dunia beserta isinya bersifat menyeluruh termasuk terhadap harta benda yang dimiliki oleh seorang manusia. Dalam rangka mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maka manusia yang merupakan khalifatullah harus mampu mengelola harta benda miliknya sesuai dengan ajaran Allah SWT. Pengeloaan tersebut dapat berupa melakukan investasi yang sesuai dengan nilai-nilai syariah. Hal tersebut sebagimana yang dikemukakan dalam Al Quran yang menjelaskan sebagai berikut :
Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi (QS. 2 : 29-30).
Hai orang-orang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan padamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah (QS. 2 : 172)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu (QS. 4 : 29)

F. FILOSOFI EKONOMI SYARIAH

Sebuah system ekonomi tidak terlepas dari filosofis yang mendasarinya. Dasar sebuah system menggambarkan bagaimana system itu berjalan pada masyarakat, merugikan atau menguntungkan masyarakat. Ada beberapa filosofis yang digunakan dalam ekonomi syariah.
Pertama, alasan Ontologi (cara pandang), ekonomi syariah memandang ekonomi dengan berdasarkan spiritual agama yang diperuntukkan kepada kemaslahatan umat. Dengan kata lain, Ekonomi Syariah menjalankan semua praktik ekonominya berdasarkan hukum yang diatur dalam agama Islam itu sendiri.
Seperti  kiita ketahui, Islam mengharamkan riba dalam  praktek  riba dalam jual beli, dalam ekonomi syariah praktik riba juga diharamkan. Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut istilah teknis riba berarti pengambilan dari harta pokok atau modal secara batil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba. Namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam. Sedankan ekonomi non syariah berpandangan  pada materi dengan prinsip modal sedikit mungkin menghasilkan  sebanyak mungkin hasil



Kedua, alasan epistimologi (sumber ilmu ),ekonomi syariah bersumber ilmu pada wahyu (al-qur’an), hadist, akal ,pengalaman dan fakta lapangan  untuk menciptakan sebuah sistem yang sempurna. Sedangkan ekonomi non syariah bersumber ilmu pada logika untuk menghasilkan sistem.
Ketiga, alasan aksiologi (sumber nilai) nilai-nilai yang bersumber pada rasullah, al-qur’an, ahkirat sedankan ekonomi non syariah sumber nilainya materi, duniawi dll
Selain itu ekonomi syariah menekankan akan Keadilan, ekonomi syariah dikenal sistim bagi hasil. hal ini diterapkan sesuai dengan namanya. jadi keuntungan usaha yang didapatkan oleh peminjam (setelah uang pinjaman digunakan), akan di bagi sesuai porsi yang disepakati di awal akad ( baca : perjanjian/ kontrak). akad harus jelas dan disepakati baru transaksi dapat berjalan.
intinya bagi hasil itu tidak dapat ditetapkan di awal, hanya pembagian porsinya saja yang hrs ditetapkan di awal ( prinsip transparansi dan kejelasan). dan bagi hasil sama sekali tidak berhubungan atau lepas dari uang / utang pokok. berbeda denga prinsip riba / bunga yang mengambil porsi keuntungan dari utang pokok. Kemudian ukhuwah ( persaudaraan )Misalnya di asuransi syariah pelimpahan resiko bukan terjadi antara peserta asuransi dengan perusahaan asuransi,tetapi antar sesama peserta.perusahaan asuransi hanya mengelola dana risk sharing tersebut.
dengan Sistem risk sharing atau berbagi resiko ini,akan terjalin semangat ukhuwah antar pesertanya. Selain itu Kepercayaan. Setiap Individu di Syariah bekerja pada prinsip tauhid yaitu sebagai salah satu bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT. artinya jika dia berkhianat dalam pengelolaan suatu dana dari masyarakat maka ia juga sudah langsung berkhianat kepada Allah SWT.
Ketenangan Ekonomi Non Syariah termasuk Asuransi Non syariah menjadikan banyak ketidak tenangan,yang disebabkan oleh adanya unsur perjudian atau untung untungan. contoh perjudian dalam asuransi non syariah nasabah berkewajiban membayar premi, sedangkan perusahaan berkewajiban membayar klaim (bila terjadi kerugian). Jika tidak terjadi musibah, maka seolah premi hilang dan secara otomatis akan menjadi milik perusahaan asuransi. sedangkan jika terjadi musibah, perusahaan berkewajiban membayar klaim yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan premi yang dibayar nasabah.Ketidakpastian contoh ketidakpastian Dalam asuansi dapat terjadi pada ketidak jelasan ada atau tidaknya “klaim/ pertanggungan” atau manfaat yang akan diperoleh nasabah dari perusahaan asuransi. Karena keberadaan klaim/ pertanggungan tersebut terkait dengan ada tidaknya resiko. Jika resiko terjadi, klaim didapatkan, dan jika resiko tidak terjadi maka klaim tidak akan didapatkan. Hal ini seperti pada jual beli hewan dalam kandungan sebelum induknya mengandung. Meskipun si induk memiliki kemungkinan mengandung.


Demikian juga dari ketidak jelasan "seberapa lama" pembayaran premi. Bisa jadi satu tahun, dua tahun, atau     tujuh belas tahun.Ketidakadilan ,Ekonomi Non Syariah, anda bila sebagai debitur (peminjam ), anda akan dipaksa untnk selalu untung dalam tiap kali transaksi. karena adanya perjanjian pengembalian modal plus bunga tiap bulannya. kondisi ini oleh ekonomi syariah, adalah bentuk kezaliman atau ketidak adilan. sehingga melanggar prinsip keadilan yang diterapkan oleh Ekonomi Syariah. maka dari itu praktek bisnis seperti ini sangat dilarang..Ketidakberkahan,, ekonomi non syariah Tidak berkah karena melegalkan untuk memakan harta riba,yaitu harta yang di dapat dari pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil,bunga bank misalnya.sedangakan hukum memakan harta riba sudah jelas haram hukumnya,karena berada di atas penderitaan orang lain.ketenangan di dapat karena prinsip syariah mengedapankan ukhuAl-Qur’an secara tegas mendeklarasikan kesempurnaan Islam tersebut. Ini dapat dilihat dalam beberapa ayat, seperti pada surat Al-Maidah ayat 3 “Pada hari ini Kusempurnakan bagi kamu agamamu dan Kusempurnakan bagi kamu nikmatKu dan Aku ridho Islam itu sebagai agama kamu”. Dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Kami menurunkan Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS.16:89). Kesempurnaan Islam ini tidak saja disebutkan dalam Al Quran, namun juga dapat dirasakan baik itu oleh para ulama dan intelektual muslim sampai kepada non muslim. Seorang orientalis paling terkemuka bernama H.A.R Gibb mengatakan, “Islam is much more than a system of theologi its a complete civilization” (Islam bukan sekedar sistem theologi, tetapi merupakan suatu peradaban yang lengkap). Sehingga menjadi tidak relevan jika Islam dipandang sebagai agama ritual an sich, apalagi menganggapnya sebagai sebuah penghambat kemajuan pembangunan (an obstacle to economic growth). Pandangan yang demikian, disebabkan mereka belum memahami Islam secara utuh.
Islam lebih mengutamakan amal daripada ide, demikian ungkap Mohammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, karena itu Islam dapat terwujud sebagai suatu peradaban.Islam hadir bukan hanya sebagai gagasan agama, namun sebagai benih dan model peradaban yang Kosmopolitan. Al-Quran bukan sekadar sebuah doktrin, melainkan seruan untuk mengungkapkan kasih sayang dalam amal perbuatan: menumpuk harta kekayaan tidaklah baik dan yang baik adalah berbagi kekayaan secara merata dan menciptakan masyarakat yang adil di mana orang miskin dan lemah diperlakukan secara hormat. (Armstrong, 2012:18). Sifat ajaran Islam yang seperti ini mengembangkan jenis peradaban baru yang lebih aplikatif tidak melulu teoritis.
Filsafat ekonomi, merupakan dasar dari sebuah sistem ekonomi yang dibangun. Berdasarkan filsafat ekonomi yang ada dapat diturunkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai, misalnya tujuan kegiatan ekonomi konsumsi, produksi, distribusi, pembangunan ekonomi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dsb. Filsafat ekonomi Islam didasarkan pada konsep triangle: yakni filsafat Tuhan, manusia dan alam. Kunci filsafat ekonomi Islam terletak pada manusia dengan Tuhan, alam dan manusia lainnya. Dimensi filsafat ekonomi Islam inilah yang membedakan ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya kapitalisme dan sosialisme. Filsafat ekonomi yang Islami, memiliki paradigma yang relevan dengan nilai-nilai logis, etis dan estetis yang Islami yang kemudian difungsionalkan ke tengah tingkah laku ekonomi manusia. Dari filsafat ekonomi ini diturunkan juga nilai-nilai instrumental sebagai perangkat peraturan permainan (rule of game) suatu kegiatan.
Permasalahan besar hari ini, dalam mengkaji ilmu pengetahuan seperti halnya ilmu ekonomi berkembang saat ini yang nota bene kadung di klaim atas nama barat, literatur sejarah teori ekonomi biasanya langsung loncat pada masa abad pertengahan di Eropa. Pemikiran ekonomi yang diproduksi oleh para pemikir Islam ditiadakan, bahkan mungkin dianggap tidak ada. Padahal semua pihak mencatat bahwa ada peradaban Islam pada abad pertengahan yang kemudian memunculkan peradaban modern, abad pencerahan. Jadi, seharusnya, pada abad pertengahan itu kemajuan peradaban dan pengkajian ilmu juga berkembang di wilayah peradaban Islam. Dalam Encyclokipaedia Britania, Jerome Ravetz menulis, ”Eropa masih berada dalam kegelapan, sehingga tahun 1000 Masehi di mana ia dapat dikatakan kosong dari segala ilmu dan pemikiran, kemudian pada abad ke 12 Masehi, Eropa mulai bangkit. Kebangkitan ini disebabkan oleh adanya persinggungan Eropa dengan dunia Islam yang sangat tinggi di Spanyol dan Palestina, serta juga disebabkan oleh perkembangan kota-kota tempat berkumpul orang-orang kaya yang terpelajar”.





Dalam konteks inilah perkembangan ilmu ekonomi tidak sepenuhnya milik barat. Dengan demikian keberadaan Filsafat Islam, bagaimanapun, harus diakui sebagai jembatan emas bagi perkembangan pengkajian filsafat di Eropa. Tema pembahasan ekonomi setelah dikemukakan oleh para filsuf Yunani Kuno, seperti Plato dan Aristoteles, juga dibicarakan oleh Filsuf Muslim seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Ghazali, dan sebagainya. Kemudian karya mereka menjadi sumber kedua (setelah filsafat Yunani) dalam perkembangan keilmuan ekonomi di Eropa.
Kontribusi pemikiran Islam selalu dianggap tidak ada, sumber pemikiran modern selalu dirujukkan pada pemikiran Yunan (dan Bible). Samuelson, misalnya, dalam buku teks Economics edisi 7, menyebutkan bahwa asal muasal Ilmu ekonomi adalah Bible (Injil) dan filsafat Yunani –tanpa menyebut kontribusi Filsuf Muslim terhadap perkembangan kajian ekonomi. Demikianpu dengan A History of Economic Thought yang ditulis John Fred Bell (1967). Bagi Samuelson St Thomas Aquinaslah sumber inspirasi utama dari pemikiran Quesney dan Merkantilis, lalu dari kedua pemikir ini menjadi basis bagi pemikiran yang digagas oleh Adam Smith. Kita tahu, Adam Smith adalah tokoh utama dari pemikiran ekonomi konvensional. Bermula dari Adam Smith inilah kita mengenali teoti motif ekonomi, invisible hand, pasar bebas, dan sejenisnya.
Abdul Azis Islahi pada tulisan The Myth of Bryson and Economic Thought in Islam mengekukakan bahwa Filsuf Muslim tidak menerjemahkan The Greek oikonomia dengan bahasa Arab ‘ilm tadbir al-manzil (the science of household management) namun juga menambahkan ruang lingkup bahasan ekonomi. Jika ekonomi Yunani terbatas pada pembahasan gagasan, ‘wants and their satisfactions’, ‘economy of self sufficient households’, ‘division of labour’, ‘barter’, and ‘money’ Filsuf Muslim memperluasnya ke wilayah market function and pricing mechanism, production and distribution problems, government economic role and public finance, poverty eradications, and economic development, etc. Kesimpulan Islahi ini diperkuat dengan tulisan Spengler (1964, p. 304) yang menegaskan bahwa “Muslim scholars extended this branch of knowledge ‘far beyond the household, embracing market, price, monetary, supply, demand phenomena, and hinting at some of the macro-economic relations stressed by Lord Keynes’.”




















BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan
1.      Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ilmu pengetahuan yang menyoroti masalah perekonomian, sama seperti konsep ekonomi konvensional lainnya. Hanya, dalam sistem ekonomi ini, nilai-nilai Islam menjadi landasan dan dasar dalam setiap aktivitasnya.
2.      2.    Prinsip-prinsip Ekonomi Islam: Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari    Allah   swt kepada manusia. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
3.      Ciri-ciri Ekonomi Islam meliputi ciri umum dan ciri khusus. Ciri Umum diantaranya, memelihara fitra manusia,  memelihara norma-norma akhlak, memenuhi keperluan-keperluan masyarakat. Ciri Khusus diantaranya, ekonomi berdimensi akidah atau keakidahan, elastis (al-murunah), realistis (al-waqi`iyyah).
4.      Sumber Hukum Ekonomi Islam : Al-Qur’an , Hadist dan sunnah, Ijma’, Ijtihat atau qiyas.
5.      Rancang bangun Ekonomi Islam. Ekonomi Islam dapat di ibaratkan satu bangunan yang terdiri dari landasan, tiang, dan atap. Landasannya terdiri atas lima komponen, yaitu tauhid, adil, nubuwwadan ma’ad (return).
6.      Islahi ini menunjukkan adanya perluasan bahasan ekonomi dari pemikiran Yunani ke wilayah yang lebih luas. Ekonomi tidak sekadar pengurusan kebutuhan rumah tangga masyarakat, melainkan lebih dari itu. Situasi perluasan ini dapat dipahami karena peradaban Islam telah berkembang sedemikian rupa sehingga berhadapan dengan sejumlah permasalahan baru yang sebelumnya tidak ditemukan pada zaman Yunani.
7.      Akhir kata, keberadaan Filsafat Ekonomi Islam bukan sekadar ihktiar dalam melakukan islamisasi ilmu pengetahuan semata, lebih dari itu keberadaan Filsafat Ekonomi Islam memberikan sumbangan pengetahuan dan keterlibatan dalam mengkonstruksi peradaban manusia, menuju peradaban perekonomian manusia menuju yang lebih baik, yang didasarkan nilai-nilai pada ruh Islam yang universal.


DAFTAR PUSTAKA



Sumber: Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar