Minggu, 30 Juni 2013

Tugas UAS Ekonomi Syariah "ALASAN RASIONAL PERSPEKTIF EKONOMI MENGENAI PENGHARAMAN RIBA" Lika Tsani Rahayu


Nama  : Lika Tani Rahayu   
NPM    : 12520075
Prodi   : Manajemen
Tugas Akhir Smester Pemasaran Syariah “ No Urut  24 (ALASAN RASIONAL PERSPEKTIF EKONOMI MENGENAI PENGHARAMAN RIBA)

Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. Riba bukan cuma persoalan masyarakat Islam, tapi berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam. Masalah riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba. Dalam Islam, memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram. Ini dipertegas dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 275 : ...padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.... Pandangan ini juga yang mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional, karena menurut sebagian pendapat (termasuk Majelis Ulama Indonesia), bunga bank termasuk ke dalam riba. bagaimana suatu akad itu dapat dikatakan riba? hal yang mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal. jadi ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti. berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya. dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya. yaitu bila akad ditetapkan di awal/persentase yang didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tersebut adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi, kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam. berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. contoh nisbahnya adalah 60%:40%, maka bagian deposan 60% dari total keuntungan.

Jenis-Jenis Riba :
Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua.Yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli.Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasi’ah.
  • Riba Qardh
    • Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).
  • Riba Jahiliyyah
    • Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
  • Riba Fadhl
    • Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.
  • Riba Nasi’ah
    • Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.
Islam mengharamkan riba dengan segala bentuknya. Menurut Nas al-Qur’an, Sebab-sebab diharamkannya Riba:
a.       Praktek riba berarti mengambil harta orang lain dengan tanpa kompensasi (pengganti), dan ini termasuk perbuatan zalim.
b.      Ketergantungan kepada riba dapat melemahkan semangat orang untuk berusaha/bekerja keras (bahkan malas dan meremehkan kerja). Ini akan memutus dinamika kehidupan yang positif—dinamika perdagangan, inovasi skill, perusahaan, pembangunan, dll.
c.       Menjadi sebab terputusnya kemaslahatan dalam interaksi sosial menyangkut praktek pinjam meminjam; rasa saling menolong melemah, termasuk simpati dan empati terhadap orang yang membutuhkan (berganti rasa kejam dan sadis yang tak berperikemanusiaan), akhirnya ketika kesenjangan sosial meningkat dapat menumbuhsuburkan kedengkian dan sakit hati, sehingga dapat terjadi permusuhan, kecemburuan sosial, dan saling benci.
d.      Riba adalah pemerasan terhadap orang-orang yang lemah untuk kepentingan orang kuat; yang kaya semakin kaya.

Wajib atas setiap orang muslim untuk berserah diri dan senantiasa ridha/berlapang dada dengan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun ia belum/tidak mengetahui alasan diwajibkannya atau diharamnya hal tersebut. Akan tetapi, sebagian hukum dapat diketahui dengan jelas alasan diharamkannya hal tersebut, sebagaimana halnya dengan hukum haramnya riba. Pada praktik riba, terjadi tindak pemanfaatan kesusahan orang-orang miskin, dan pelipatgandaan piutang atasnya. Ditambah lagi, praktik riba akan menyulut api permusuhan dan rasa kebencian. Dan praktik-praktik riba menyebabkan masyarakat tidak produktif, karena mereka malas berkerja dan hanya mengandalkan bunga piutangnya (tabungannya), sehingga mereka malas untuk mengembangkan sumber daya alamnya, dan dampak negatif serta kerugian lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar